Thursday, April 12, 2007

Cinta dan Sex

Di tengah meriah suatu pesta. Terlihat

"ayolah Tracy tenang aja gue bawa sepasang muda-mudi remaja yang sedang serius membicarakan sesuatu,pengaman kok!” kata cowok tersebut, “Nggak Ndre, aku nggak mau ngelakuin itu aku kan belum married” kata cewek tersebut dengan nada memelas. Lalu, cowok itu menyahut dengan keras, “aah, lu jangan sok suci, katanya lu cinta ama gue, kalau lu masih mau jalan sama gue, lu harus nurut sama gue” dan wajah cewek tersebut berubah, menampakkan kebingungan dan kesedihan. Dan pada saat itu, cowok tersebut memeluknya dengan erat, lalu kedua pasangan itu pergi berdua meninggalkan pesta yang meriah dengan bergandengan tangan.

Bagaimana perasaan kalian setelah membaca dan merenungi fragmen-fragmen di atas? Sedih, takut, atau miris?!!

Teman-teman, cinta memang penuh warna. Sayangnya yang selalu lewat dalam kehidupan kita adalah warna merah jambu atau biru muda, yang jelas umumnya warna-warna yang ceria. Padahal seringkali cinta membuat dunia menjadi ungu, kelabu, bahkan hitam kelam. “Cinta itu memang indah tetapi juga dapat menjadi derita tanpa akhir”, begitu yang dikatakan Chow Fat Kay, temannya Sun Go Kong, yang sering muncul di layar kaca.

Banyak orang mengatakan, orang yang jatuh cinta makan gula jawa serasa cokelat. Tetapi orang yang sedang putus cinta makan cokelat terenak serasa gula jawa. Yah, cinta katanya memang indah, tetapi kita harus ingat, betapa banyak tragedi yang muncul dari cinta yang akhirnya membuat kita berduka. Seperti yang dialami oleh Nila (16 tahun).

"Gue udah ngelakuin premartial sex sejak kelas 2 SMP. Pertama sih sama pacar, terus putus, kemudian sama pacar yang lain, dan terus dan terus dech. ‘Ortu gue kagak pernah tahu, soalnya ortu gue jarang di rumah.’ Ketika SMU, gue masih ngelakuin “itu” sampai akhirnya gue hamil, gue stres berat, sedangkan pacar gue malah kagak bisa mikir. Lantas, yang kami sekeluarga memutuskan dengan jalan damai dengan jalan pernikahan”.

Sudah banyak orang tahu dan mengerti bahwa kebaikan itu ada batasnya, dan itu juga berlaku dalam kasus ini. Ketika kehormatan seorang wanita direnggut, sang lelaki mulai menghindar. Seperti apa yang dikatakan oleh Tiara, “ketika kehormatan saya sudah direnggutnya, ia mulai menghindar. Bahkan ia menuduh saya sudah telah melakukan hal “itu” dengan pacar-pacar saya sebelumnya dan ia menuduh saya tidak perawan lagi”. Setelah saat itu, Tiara menggugurkan kandungannya dengan diam-daim, dan tentu saja dia merasakan sakit yang amat sangat setelah aborsi dan sakit hati yang tidak ada obatnya.

Lain orang, lain juga ceritanya, seperti teman saya, Lia, “pacaranku sih termasuk wajar, nggak macem-macem. Paling cuma cipiki-cipika, cium pipi kiri atau cium pipi kanan. Dan aku sudah ganti cowok tiga kali, yang sekarang ini lumayan kreatif. Kalau KNP (kissing, necking, peting) sudah biasa, lama-lam juga bosan gituan terus. Dia berani ngerayu aku untuk ML (making love), membuat aku jadi penasaran, sebenarnya kepingin tahu rasanya”, terus apa lu kagak takut hamil, “tenang kan ada kondom dengan berbagai macam merk beserta keunggulannya” ujar dia ketika saya tanya.

Salah satu remaja yang juga mengalami masa depan suram adalah Rudi (22 tahun), pengamen, terkena penyakit menular seksual, gara-gara suka “jajan” bersama temen-temannya. Begitu ketahuan kena penyakit menular seksual, dia menangisi dirinya sendiri “gue ngeri banget, gue kapok banget, gue nggak bisa menebus semua ini, gue sumpah nggak mau begituan lagi dan gue mau sembuh”, ujarnya. Saya berharap seperti yang dialami Rudi tidak terulang pada kita semua, karena yang namanya surga dunia jadi berasa neraka. Betul nggak?!!.

Ya, kenyataan dalam pergaulan remaja di sekitar kita, tampak bahwa cinta dan sex ada benang merah yang tidak dapat diputus, lantas pertanyaanya, sex yang bagaimana? . Salah satu teman saya berkata“ gue pacaran selama ini jelas mesti ada KNP, itu biasa dan lumrah men!”, ujarnya dengan keras. Bahkan teman saya yang juga tidak mau disebutkan namanya berkata “bahwa gue meski cowok tapi gue nggak mau duluin atau mancing-mancing untuk begituan, biasanya malah cewek gue”, “selanjutnya sikap kamu begaimana setelah itu”, sahut saya, “tentu saja kesempatan itu tidak saya lewatkan, seumpama nanti terjadi kecelakaan, si cewek harus menyadari bahwa dia yang minta duluan, gue cuma orang yang dimintai tolong”, “brengsek lu”, sahut saya, “itu sebuah pakem bagi saya”, begitu katanya. “Masalah sex bukanlah hal tabu untuk dibicarakan”, begitu kata teman-teman saya, sehingga masalah sex atau kasus sex adalah bahan obrolan dan lelucon yang apaling asyik dan seru untuk dibicarakan. Betul nggak?!!. Tapi yang menjadi masalah adalah jangan sampai pribadi kita menjadi narasumber kasus atau masalah sex itu sendiri, singkatnya jangan mencari masalah.

BY = eka c. setyawan (4/12/07 ; 12:06 PM)